lagu malam (3); tentang menjadi ayah
oleh Fahd Djibran pada 05 April 2010 jam 23:19
untukmu yang membangun rumah di rahim istriku
aku kira kau anak kecil pertama yang membangun rumah di rahim istriku, menyusun batu demi batu mendirikan tembok dengan kapur semen sambil bernyanyi, dan kau baru berusia empat minggu.
aku sungguh-sungguh mengikuti bagaimana kau menyusun batu-batu itu dengan rapi. dan aku mengira kau anak kecil biasa yang sedang membangun rumah di rahim istriku, tapi aku keliru, karena kau ternyata membangun rumah dengan sungguh-sungguh—tidak seperti anak-anak kebanyakan. paling tidak, aku keliru karena kau adalah anak kecil yang berbeda dari anak-anak lainnya. kau membangun rumah di rahim istriku sambil bernyanyi, dan kau melakukannya dengan sungguh-sungguh—sesemangat ayahku yang mendirikan rumah dua tingkat dengan tiang-tiang yang kuat.
saat kau selesai mendirikan tembok dan mengecatnya dengan warna merah bergambar dirimu, kau mulai menyusun genting untuk atap. aku tak mengerti mengapa kau perlu atap di rahim istriku. paling tidak, aku tak yakin mengapa kau melakukannya. tapi kau memang bukan anak kecil biasa yang sedang membangun rumah di rahim istriku, kau melakukannya dengan sungguh-sungguh. seperti ayahku yang membangun rumah dua tingkat lengkap dengan atap.
kadang aku mengherani diriku sendiri mengapa aku menjadi lelaki yang mudah berhenti saat melakukan sesuatu. dan sekarang aku dikepung pertanyaan yang berasal dari dalam diriku sendiri: mengapa aku tidak seperti kamu, yang selalu sungguh-sungguh dan ceria.
izinkanlah aku bertanya, dari mana sebenarnya kau datang? saat kau baru mulai membuat fondasi di rahim istriku, dan ia tahu ada sesuatu yang terjadi dalam dirinya, ia begitu senang menyambut kedatanganmu. ia mengizinkanmu begitu saja saat kau mendirikan sebuah rumah di dalam dirinya, menyusun batu-batu mendirikan tembok merah bergambar dirimu. kau tahu, bertahun-tahun yang lalu, saat aku datang dan merayunya untuk kubangun sebuah rumah di dalam dirinya—ia tak langsung bergembira dan menerimaku seperti saat menerimamu. butuh waktu cukup lama untukku hingga ia bersedia merelakan aku menyusun batu-batu mendirikan tembok di salah satu bagian di dalam dirinya.
mungkin itu bedanya: kau datang tiba-tiba dan langsung saja membangun rumah tanpa basa-basi, menyusun batu-batu mendirikan tembok dengan semen sambil bernyanyi. dan dia senang bukan main mendapati dirimu di dalam dirinya, dia tersenyum setiap hari, bernyanyi gembira, dan mulai memanggilmu dengan subutan ‘sayang’. sungguh, kau bukan anak kecil biasa yang membangun rumah di rahim istriku. ini terlalu cepat, dari mana sebenarnya kau datang, padahal aku butuh waktu bertahun-tahun untuk mendapatkannya.
saat kau selesai membuat atap, di suatu pagi, tiba-tiba aku mendapati istriku menjadi seseorang yang berbeda. aku merasakan perhatiannya sebagian besar beralih dari diriku pada dirimu. ia lebih sering menyapamu daripada menyapaku. ia lebih sering berdoa untukmu daripada untukku. dan aku semakin mengherani diriku sendiri: apakah ada yang salah dengan diriku? mengapa begitu cepat kau bisa menaklukkan hatinya dan mulai menyisihkanku, padahal usiamu baru empat minggu.
lalu seketika aku dilanda rasa cemburu. tetapi ini rasa cemburu yang berbeda. seolah-olah aku menerima begitu saja kenyataan ini, bahwa kau lebih hebat dariku. dan ini kali pertama aku membiarkan istriku jatuh cinta lagi pada seseorang selain diriku; seseorang yang nampaknya tak pernah peduli bahwa dirinya telah memenangi sebuah persaingan atas diriku, seseorang yang terus bernyanyi—sambil memasang pintu dan jendela-jendela di rahim istriku.
kau terus saja bernyanyi saat menata lemari baru, tempat tidur baru, meja dan lampu. kau juga memasang sebuah cermin untuk mematut diri. dan istriku membiarkan semuanya. ia bahkan memintaku mengurangi biaya ini-itu agar ia bisa memenuhi keperluanmu yang lain. aku benar-benar tak mengerti dengan dirimu, kau baru berusia empat minggu tetapi kau sudah butuh jam tangan, kaca mata, mesin jahit, bahkan kau meminta istriku memasang teve kabel dengan saluran khusus anak-anak yang bernyanyi sepanjang hari. dari mana sebenarnya engkau datang? bagaimana caranya kau bisa menaklukkan istriku secepat itu?
kadang-kadang aku bertengkar dengan istriku, karena kau telah mengambil hampir semua milikku, bahkan malam-malamku. tetapi sesungguhnya itu pertengkaran kecil, aku hanya ingin memintanya menyampaikan sebuah pesan kepadamu: rumah saja sudah cukup, dan isinya sudah kaumiliki juga seperti tempat tidur dan lampu baca; jangan membuat cerobong asap di sana, jangan membuat istriku harus merasa mual setiap pagi dan malam, karena kau ingin menyalakan api. maksudku, meskipun ia tak akan merasa keberatan, kumohon, jangan lakukan itu. dan aku akan merelakan semuanya meskipun kau akan mengambil apa saja segala milikku.
engkau tahu, anakku, kau adalah anak kecil pertama yang membangun rumah di rahim istriku, menyusun batu demi batu mendirikan kehidupanmu yang baru di sana. tentang istriku, meski sebenarnya aku merasa benar-benar cemburu padamu, sejujurnya aku rela kau merebut hatinya, menyita sebagian besar perhatiannya. aku hanya memberimu satu syarat: mulai saat ini kau harus memanggilku ‘ayah’.
Serpong, 5 April 2010, saat aku sedang menyiapkan novel pertamaku; Rahim.
Fahd Djibran
aku kira kau anak kecil pertama yang membangun rumah di rahim istriku, menyusun batu demi batu mendirikan tembok dengan kapur semen sambil bernyanyi, dan kau baru berusia empat minggu.
aku sungguh-sungguh mengikuti bagaimana kau menyusun batu-batu itu dengan rapi. dan aku mengira kau anak kecil biasa yang sedang membangun rumah di rahim istriku, tapi aku keliru, karena kau ternyata membangun rumah dengan sungguh-sungguh—tidak seperti anak-anak kebanyakan. paling tidak, aku keliru karena kau adalah anak kecil yang berbeda dari anak-anak lainnya. kau membangun rumah di rahim istriku sambil bernyanyi, dan kau melakukannya dengan sungguh-sungguh—sesemangat ayahku yang mendirikan rumah dua tingkat dengan tiang-tiang yang kuat.
saat kau selesai mendirikan tembok dan mengecatnya dengan warna merah bergambar dirimu, kau mulai menyusun genting untuk atap. aku tak mengerti mengapa kau perlu atap di rahim istriku. paling tidak, aku tak yakin mengapa kau melakukannya. tapi kau memang bukan anak kecil biasa yang sedang membangun rumah di rahim istriku, kau melakukannya dengan sungguh-sungguh. seperti ayahku yang membangun rumah dua tingkat lengkap dengan atap.
kadang aku mengherani diriku sendiri mengapa aku menjadi lelaki yang mudah berhenti saat melakukan sesuatu. dan sekarang aku dikepung pertanyaan yang berasal dari dalam diriku sendiri: mengapa aku tidak seperti kamu, yang selalu sungguh-sungguh dan ceria.
izinkanlah aku bertanya, dari mana sebenarnya kau datang? saat kau baru mulai membuat fondasi di rahim istriku, dan ia tahu ada sesuatu yang terjadi dalam dirinya, ia begitu senang menyambut kedatanganmu. ia mengizinkanmu begitu saja saat kau mendirikan sebuah rumah di dalam dirinya, menyusun batu-batu mendirikan tembok merah bergambar dirimu. kau tahu, bertahun-tahun yang lalu, saat aku datang dan merayunya untuk kubangun sebuah rumah di dalam dirinya—ia tak langsung bergembira dan menerimaku seperti saat menerimamu. butuh waktu cukup lama untukku hingga ia bersedia merelakan aku menyusun batu-batu mendirikan tembok di salah satu bagian di dalam dirinya.
mungkin itu bedanya: kau datang tiba-tiba dan langsung saja membangun rumah tanpa basa-basi, menyusun batu-batu mendirikan tembok dengan semen sambil bernyanyi. dan dia senang bukan main mendapati dirimu di dalam dirinya, dia tersenyum setiap hari, bernyanyi gembira, dan mulai memanggilmu dengan subutan ‘sayang’. sungguh, kau bukan anak kecil biasa yang membangun rumah di rahim istriku. ini terlalu cepat, dari mana sebenarnya kau datang, padahal aku butuh waktu bertahun-tahun untuk mendapatkannya.
saat kau selesai membuat atap, di suatu pagi, tiba-tiba aku mendapati istriku menjadi seseorang yang berbeda. aku merasakan perhatiannya sebagian besar beralih dari diriku pada dirimu. ia lebih sering menyapamu daripada menyapaku. ia lebih sering berdoa untukmu daripada untukku. dan aku semakin mengherani diriku sendiri: apakah ada yang salah dengan diriku? mengapa begitu cepat kau bisa menaklukkan hatinya dan mulai menyisihkanku, padahal usiamu baru empat minggu.
lalu seketika aku dilanda rasa cemburu. tetapi ini rasa cemburu yang berbeda. seolah-olah aku menerima begitu saja kenyataan ini, bahwa kau lebih hebat dariku. dan ini kali pertama aku membiarkan istriku jatuh cinta lagi pada seseorang selain diriku; seseorang yang nampaknya tak pernah peduli bahwa dirinya telah memenangi sebuah persaingan atas diriku, seseorang yang terus bernyanyi—sambil memasang pintu dan jendela-jendela di rahim istriku.
kau terus saja bernyanyi saat menata lemari baru, tempat tidur baru, meja dan lampu. kau juga memasang sebuah cermin untuk mematut diri. dan istriku membiarkan semuanya. ia bahkan memintaku mengurangi biaya ini-itu agar ia bisa memenuhi keperluanmu yang lain. aku benar-benar tak mengerti dengan dirimu, kau baru berusia empat minggu tetapi kau sudah butuh jam tangan, kaca mata, mesin jahit, bahkan kau meminta istriku memasang teve kabel dengan saluran khusus anak-anak yang bernyanyi sepanjang hari. dari mana sebenarnya engkau datang? bagaimana caranya kau bisa menaklukkan istriku secepat itu?
kadang-kadang aku bertengkar dengan istriku, karena kau telah mengambil hampir semua milikku, bahkan malam-malamku. tetapi sesungguhnya itu pertengkaran kecil, aku hanya ingin memintanya menyampaikan sebuah pesan kepadamu: rumah saja sudah cukup, dan isinya sudah kaumiliki juga seperti tempat tidur dan lampu baca; jangan membuat cerobong asap di sana, jangan membuat istriku harus merasa mual setiap pagi dan malam, karena kau ingin menyalakan api. maksudku, meskipun ia tak akan merasa keberatan, kumohon, jangan lakukan itu. dan aku akan merelakan semuanya meskipun kau akan mengambil apa saja segala milikku.
engkau tahu, anakku, kau adalah anak kecil pertama yang membangun rumah di rahim istriku, menyusun batu demi batu mendirikan kehidupanmu yang baru di sana. tentang istriku, meski sebenarnya aku merasa benar-benar cemburu padamu, sejujurnya aku rela kau merebut hatinya, menyita sebagian besar perhatiannya. aku hanya memberimu satu syarat: mulai saat ini kau harus memanggilku ‘ayah’.
Serpong, 5 April 2010, saat aku sedang menyiapkan novel pertamaku; Rahim.
Fahd Djibran



Tidak ada komentar:
Posting Komentar